Simalungun, Armadanews.id | Masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika baik di negara kita ataupun di dunia masih menjadi salah satu masalah penting di berbagai negara yang berpotensi merusak sumber daya manusia kapanpun dan dimanapun.
Hal itu disampaikan Ketua BNN Kabupaten Simalungun Suhana Sinaga, S.Kom., Msi saat Gelar Workshop Pengembangan Kapasitas Program Pemberdayaan Penggiat Anti Narkoba di Lingkungan Masyarakat. Dikatakannya, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat bahwa persoalan narkotika di Indonesia masih dalam kondisi yang memerlukan perhatian dan kewaspadaan tinggi secara terus menerus dari seluruh elemen bangsa Indonesia.
Dari hasil penelitian yang dilakukan BNN secara periodik setiap tiga tahunnya, Angka Prevalensi terhadap narkotika mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2019 terjadi penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2011 prevalensi pada angka 2,23 %, pada tahun 2014 prevalensi pada angka 2,18 %, pada tahun 2017 pada angka 1,77 % dan pada tahun 2019 pada angka 1,80 %.
Lanjutnya Menurut buku “Indonesia Drugs Report Tahun 2020, hasil Penelitian yang dilakukan BNN dengan Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI pada populasi umum usia 15-64 tahun di 34 Provinsi, ada 5 provinsi dengan angka prevalensi tertinggi yakni Sumatera Utara (6.5%), Sumatera Selatan (5%), DKI Jakarta (3,3%), DIY (2,8%), dan Sulawesi Tengah (2.8%). Sementara untuk 3 jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi 1 tahun terakhir adalah Ganja (65.5%), Sabu (38%), dan Ekstasi (18%), dan usia pertama kali menggunakan narkoba berkisar 17-19 tahun sedangkan pengguna narkoba terbanyak berada pada usia produktif 35-44 tahun.

Fakta dan data-data di atas, adalah realitas nyata yang membuat Indonesia darurat Narkotika, sampai-sampai tak ada satu wilayah pun di negara kita yang bersih dan bebas Narkotika.Dengan situasi “Darurat Narkotika” terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika pada saat ini, BNN bersama Polri, TNI, Bea Cukai, Imigrasi, Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya serta seluruh komponen masyarakat harus mampu bersinergi dan bersama-sama mengambil langkah strategis dalam upaya P4GN. Upaya-upaya tersebut dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan yang di implementasikan secara seimbang antara supply reduction (pengurangan pasokan) melalui Upaya Pemberantasan, dengan demand reduction (pengurangan permintaan) melalui Upaya Pencegahan.
Masyarakat saat ini rentan menjadi target para bandar Narkoba. Pembiaran terhadap penyalahgunaan narkoba di Lingkungan perusahaan dan lingkungan masyarakat dapat menurunkan poduktifitas dalam bekerja.
Dengan dilaksanakannya kegiatan Workshop di Lingkungan Masyarakat dalam bentuk pengembangan kapasitas dan pembinaan penggiat anti narkoba ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan lingkungan masyarakat dan lingkungan swasta yang bersih narkoba (BERSINAR).
Seluruh komponen masyarakat dan pihak swasta harus berpartisipasi dalam mensukeskan program “Zero Narkoba”, agar kita semua bebas dari ancaman penyalahgunaan narkoba. Di internal lingkungan perusahaan dan masyarakat dapat membuat kebijakan atau peraturan yang menolak penyalahgunaan narkoba.
Salah satu upaya pemerintah untuk memberantas peredaran narkoba yang disinyalir bahwa narkotika lebih banyak diedarkan di desa dibandingkan di kota adalah Program Pembentukan Desa/Kelurahan Bersinar (Bersih Narkoba di Lingkungan Masyarakat.Kegiatan workshop ini juga bertujuan untuk membentuk penggiat anti narkoba di Lingkungan Masyarakat supaya dampak narkoba serta angka kejahatan tindak pidana narkotika di Indonesia bisa diminalisir.
Para penggiat anti narkoba di lingkungannya nantinya dapat melaksanakan Rencana Aksi Nasional P4GN yang sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2020.
Ketua BNN Kabupaten Simalungun Suhana Sinaga, S.Kom., M.Si. berharap setelah berakhirnya kegiatan ini nantinya. “Kita sebagai Penggiat P4GN dalam melaksanakan tugasnya, selalu memegang teguh prinsip : kerja ikhlas, kerja keras, kerja cerdas, kerja berintegritas dan kerja ikhlas sehingga selaras dengan budaya kerja BNN RI yaitu Berani, Nasionalis, Netral, Responsif dan Inovatif,” tutupnya (Riz)





