SIANTAR,Armadanews.id |
Pimpinan Cabang Baitul Muslimin Indonesia (PC BAMUSI) Kota Pematangsiantar meminta semua pihak untuk bias menahan diri dengan tidak memeberikan komentar atau tanggapan terkait dibebaskannya empat tenaga kesehatan (Nakes) RSUD Djasamen Saragih dari dugaan penistaan agama.
Ketua Bamusi Azahari Nasution, Jumat (26/02/2021) sekira pukul 15.00 wib, mengatakan peristiwa meninggalnya Almh Zakiah (50) warga Serbelawan Kabupaten Simalungun pada 20 September 2020 lalu dengan status suspec Covid-19.
“Dengan situasi tersebut kita juga ketahui, di rumah sakit tersebut tidak ada tenaga medis perempuan yang bertugas memandikan jenazah, yang tersedia hanya tenaga medis laki-laki. Karena pada umumnya, sebelum wabah covid-19, umat muslim yang meninggal di rumah sakit tidak pernah dimandikan, namun langsung dibawa ke rumah duka,” kata Azahari.
Untuk itu, yang akhirnya empat tenaga medis laki-laki memandikan almarhumah setelah atas persetujuan suami almah, Fauzi Munthe (45) yang dilakukan dengan pernyataan bermaterai menyetujui seluruh proses penatalaksanaan/penanganan jenazah yang dimulai dari tahapan di ruang isolasi, pemindahan jenazah, pemulasaran di ruang jenazah, penyemayaman higga pemakaman jenazah dilakukan menurut protocol kesehatan.
Untuk itu kata Azahari Nasution, sangat menyayangkan ketika peristiwa pemandian jenazah yang dilakukan empat tenaga kesehatan itu akhirnya berujung kepada hukum.
“Saya meminta untuk saudaraku umat muslim agar tidak menarik atau menilai kejadian yang menimpa saudara kita almarhumah Zakiah karena situasi darurat covid-19,” sebutnya.
Dikatakan Azahari, ranah hukum merupakan kewenangan dari Aparat Penegakan Hukum.”Mari kita sama-sama menghormati putusan tersebut, Sehingga tidak semakin meruncing dan tidak digunakan pihak-pihak lain yang ingin mengambil keuntungan pribadi dari peristiwa ini,” imbuhnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga yang dihormati ummat muslim dikatakan Azahari juga menyebutkan hal itu bukan penistaan agama. “Karena di dalam MUI para ulama yang sangat paham tentang ilmu atau syariat islam,” kata Azahari.
“Pematangsiantar adalah kota kita bersama dan marilah kita tetap menjaga, Siantar juga dikenal sebagai sebagai kota yang toleransi,” kata Ketua PC BAMUSI Siantar, Azahari Nasution mengakhiri. (ds)





