SIANTAR, Armadanews.id |
Hari ini, 24 April tahun 2021 merupakan hari jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pematangsiantar yang ke-150 tahun.
Diusia ke-150 ini diharapkan bisa menjadi ajang untuk refleksi terhadap kemajuan dan perkembangan Kota Siantar. Refleksi bagi stakeholder atau lembaga pemerintahan dan seluruh masyarakat Pematangsiantar.
Demikian disampaikan Rado Damanik, salah seorang tokoh pemuda saat diwawancarai wartawan di Jalan Kartini, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pemangsiantar, Sabtu (24/04/2021) sekira pukul 14.00 WIB.
“Hari ini, momen yang tepat untuk refleksi, merenung tentang kondisi kota yang kita cintai ini,” ujar Rado Damanik.
Dia menjelaskan, bahwa sejak 10 tahun terakhir, Kota Siantar bagaikan berjalan dengan stagnan tanpa ada arah yang jelas bagaimana pembangunan kedepan. Apalagi kondisi saat ini, komunikasi antar lembaga sepertinya terputus.
Sehingga seolah-olah walikota tanpa punya visi dan misi dalam mensejahterakan rakyat siantar. Sehingga benar-benar rakyat Siantar terabaikan.
Proses berjalannya pemerintahan sepertinya suka-suka, tidak ada aturan, bahkan para pejabat di kota ini sepertinya tidak punya integritas dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat.
Dan keadaan ini sepertinya malah dipelihara lembaga-lembaga yang ada baik lembaga pemerintahan maupun non pemerintahan, bahkan keadaan ini sengaja dibuat agar ada jalan untuk memperkaya diri sendiri.
Contohnya Pemko, DPRD dan unsur Forkopimda lainnya sepertinya bekerja sendiri-sendiri. Tidak ada komunikasi yang baik. Ini bisa disebabkan adanya ketidakjujuran walikota dalam memimpin kota ini. Forkopinda, Forkola, FKUB dan KNPI sebagai organisasi publik yang sepertinya mati suri tanpa bisa memberikan solusi atas permasalahan kota ini.
“Rendahnya integritas walikota dalam memimpin, sepertinya diabaikan lembaga-lembaga tersebut. Ini diakibatkan putusnya komunikasi antar lembaga dengan lembaga eksekutif. Akhirnya menyebabkan kurangnya rasa kebersamaan,” ujar Ketua Umum Himapsi periode 2018-2021 itu.
Dia menegaskan, kini saatnya para pemangku kepentingan untuk duduk bersama dan menjadikan motto Kota Pematangsiantar yakni ‘sapangambei manoktok hitei’ sebagai pedoman utama dalam melaksanakan tugas membangun dan memajukan Kota Siantar.
Sebagaimana diketahui bahwa arti dari sapangambei manoktok hitei adalah bergotongroyong untuk mencapai tujuan yang mulia. Artinya, setiap pekerjaan, program dan tugas pejabat negara di Kota Pematang Siantar didasari dengan kerjasama, kebersamaan dan atau bergotong-royong.
“Termasuk di kehidupan masyarakat. Pemerintah saatnya menghidupkan kembali budaya gotong-royong. Dengan
mempedomani motto ini, kita yakin, Kota ini akan berkembang cepat, maju, dan rakyatnya pun aman dan sejahtera. Dan semua itu bisa terjadi kalau pemimpin kota ini punya integritas kepemimpinan yang baik. Untuk itu, marilah kita merefleksikan perjalanan kota yang kita cintai ini,” pungkas alumni jurusan Se Sejarah, Universitas Simalungun itu. (AN)





