PARAPAT, ARMADA NEWS ID | Sebanyak 16 Sekolah Dasar Negeri dan 1 Sekolah Swasta Bintang Timur di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon (Girsip), Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara , melaksanakan aktifitas belajar tatap muka. Dengan tingkat kehadiran siswa 25 persen dari jumlah siswa keseluruhan.
Bagi setiap siswa dan para guru diberlakukan penerapan protokol kesehatan (Prokes), yaitu Mencuci tangan, Memakai masker, Menjauhi Kerumunan, Menjaga Jarak , dan Mengurangi mobilitas (5M).
Dan sebelum tatap muka, pihak sekolah terlebih dulu meminta surat pernyataan dari orangtua siswa. Selanjutnya dilakukan penyemprotan desinfektan di ruangan kelas oleh masing-masing sekolah.
Hal itu disampaikan Kepala Sekolah SD Negeri 094250 Girsang Rosmauli Manurung, SPd di ruang kerjanya, Selasa (7/9-2021).
” Tatap Muka ini atas persetujuan orang tua, dengan kehadiran siswa 25 persen, Seperti kita, jumlah siswa 121 orang, yang masuk sekolah hari ini 36 orang saja, sistim belajarnya bergantian,” terang Rosmauli.

Terpisah, Kepala Sekolah SD Negeri 094151 Sipangan Bolon, Dra Masda Sirait menjelaskan, setiap siswa yang masuk ke ruangan kelas terlebih dulu dilakukan pengukuran suhu melalui alat termometer digital Infrared. Kemudian setiap siswa disarankan memaki masker dan cuci tangan.
” Bila mana ada siswa kami badannyaya melebihi suhu, kami suruh istirahat atau dipulangkan ke rumah, hal itu dilakukan untuk menjaga penularan Covid 19,” tegasnya.
Sementara, Kordinator Wilayah Dinas Pendidikan Kecamatan Girsang, Ramsiyah Sirait, SPd didampingi pengawas Jamesli Purba menyampaikan, pemberlakuan tatap muka kepada siswa dilakukan sejak Senin (6/9-2021). Dan telah dilakukan monitoring ke 17 dalam kesiapan sekolah untuk tatap muka.
“Tatap muka belajar ini atas arahan pimpinan, dan setiap sekolah di Kecamatan Girsang disarankan menerapkan Prokes dalam tahap belajar, bagi guru yang belum mendapatkan Vaksinasi diminta agar mengajar melalui daring,” ucapnya.
Seorang siswa, Pratama Sirait siswa kelas IV mengatakan rindu datang ke sekolah. Dan selama libur dirinya bosan di rumah karena kerjaannya hanya main-main.
Amatan di lapangan, saat terjadi proses belajar, semua siswa dan guru tetap memakai masker dengan jarak duduk sesuai arahan guru. Di setiap kelas juga dipersiapkan fasilitas cucu tangan. (Hery Silalahi).





