SIANTAR, Armadanews,id | Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Namun mungkin sebagian orang mungkin lupa bahwa dari Kota Pematangsiantar pernah meraih juara Guru Teladan Tingkat Nasional.
Menyusuri Kota Pematangsiantar, tepatnya di Jalan Lapangan Bola Atas Gang Kopi no. 3, Armadanews disambut hangat oleh Drs Bistel Sitanggang, sosok yang meraih penghargaan Guru Teladan Tingkat Nasional Tahun 1986.
Walau sudah berusia 83 Tahun, Bistel Sitanggang masih tampak bersemangat menuturkan perjalanan hidupnya sebagai guru. “Yang saya rasa, itulah pembersihan Tuhan pada saya. Yang saya rasa yang tidak bisa saya jalani, rupanya tercapai juga.
Tak mungkinlah seorang anak desa dari Barus menjadi seorang anak yang baik kemudian dari situ terpilih menjadi anak yang terbaik dan mendirikan sekolah di sana,” ujar Bistel Sitanggang perjalan hidupnya sebagai guru dimulai dari kampung halamannya.
Disebutkannya, Pertama tama menjadi guru SD kemudian mengajar di SDA (SMP).
“Saya mengajar di SMP Negeri Barus yang berjarak 15km dari kampung saya. Setiap hari saya tempuh naik lereng (sepeda-red),” terangnya nama daerahnya bernama Sosor Gadong.
“Kalau saya lihat kerajinan mu lain dari yang lain. Gak usah lagi bolak balik, saya bantu bapak, kita dirikanlah di sana SMP Swasta dan pak Sitanggang menjadi pengawas di sekolah tersebut,” sebut Bistel Sitanggang mengenang ucapan Direktur SMP Negeri Barus saat itu.
Setelah bersosialisasi dengan 15 desa yang ada, pendirian SMP Swasta terwujud. “Di situlah saya tinggal dan mengajar,” tuturnya pendirian sekolah tersebut juga dilaporkannya ke Kanwil Pendidikan.
Setelah 2-3 tahun, pihak Kanwil datang, menemuinya dan mengutarakan agar sekolah tersebut menjadi SMP Ngeri dan dipimpin olehnya yang selanjutnya resmi menjadi SMP Negeri.
Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Setelah sekolahnya menjadi Sekolah Negeri, Bistel Sitanggang harus meninggalkan sekolah tersebut karena golongannya tidak bisa menjadi kepala sekolah negeri. “Waktu itu saya masih golongan II,” terangnya pihak kanwil memberikan beberapa opsi.
“Bagusan bapak pindah sekaligus melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana dengan pilihan kota Medan, Sidempuan atau Pematangsiantar karena di daerah tersebut ada cabang IKIP Negeri Medan.
Setelah memilih Kota Pematangsiantar, bersama istri dan kedua anaknya, Bistel Sitanggang meninggalkan kampung halamannya dengan mengayuh Lereng (sepeda) menuju Sibolga dan selanjutnya naik bus ke kota Pematangsiantar.
“Saya memilih Pematangsiantar karena mendengar cerita ada nenek moyang kami yang merantau ke Siantar (Tanah Jawa),” tuturnya tidak memiliki duit untuk tinggal di Kota Medan karena pekerjaannya sebagai guru bergaji kecil
Diceritakan, dirinya ditempatkan di SMP Negeri 2 Pematangsiantar mengajar Aljabar dan sekaligus kuliah di IKIP Negeri Medan cabang Siantar yang berada di Jalan Sutomo Kota Pematangsiantar dan meraih gelar sarjana muda. Selanjutnya setelah mengikuti ujian negara di Fkip Nomensen berhasil meraih gelar Drs (S1) sekaligus mengikuti penyesuaian golongan. setelah sepuluh tahun, Bistel Sitanggang dipindahkan ke SMP Negeri 1 Pematangsiantar.
Sekitar tahun 1985 ada perlombaan Guru Teladan. Direktur SMP Negeri 1 menyampaikan panda nya agar mengikuti perlombaan Guru teladan tersebut dan dari 50 peserta, Bistel Sitanggang berhasil meraih peringkat pertama (juara) Guru Teladan di Kota Pematangsiantar. Begitu juga untuk tingkat provinsi, Bistel Sitanggang juga berhasil meraih Juara Provinsi Sumatera Utara dan berhak mengikuti tingkat Nasional yang juga diraihnya Sebagai guru Teladan Tingkat Nasional.
“Tanggal 17 Agustus 1986, saya ikut sebagai penggerak bendera di Istana Nagara,” ungkap Bistel Sitanggang sembari menunjukkan beberapa sertifikat maupun piagam penghargaan atas prestasi yang diraihnya diantaranya diberikan oleh menteri pendidikan Fuad Hasan dan dari Ibu Tien Soeharto.
Usai kembali dari Jakarta, Bistel Sitanggang diberikan tanggung jawab sebagai Direktur SMP Negeri di Barus, Ujung Padan dan terakhir di SMP Negeri Tanah Jawa hingga pensiun di tahun 2000. “Menjadi guru sejak tahun 1965,” pungkas Drs Bistel Sitanggang merasa prihatin turunnya mutu pendidikan di Kota Pematangsiantar serta nasib guru PPPK yang belum jelas kelanjutannya. (Sil)





