SIANTAR— Siantar kota Pendidikan, bukan karena perilaku anak Siantar yang ‘terdidik’ tapi karena banyaknya sekolah penting di Siantar. Selain Sekolah Tinggi Teologia (STT) HKBP yang luas dan hijau, juga ada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Yohannes, lokasinya di Sinaksak, sebuah kawasan pendidikan yang asri di batas kota Siantar.
Sekolah para teolog ini tak menjadikan Siantar kota ‘mabuk agama’ dengan taburan khotbah dan nasihat. Bak kata tokoh dunia Dalai Lama, ‘Agama saya adalah kebaikan!’
Setidaknya prinsip itu salah satu yang mendasari pelayanan dan kesaksian anak anak Seminari untuk melahirkan perkumpulan Sandi Kelana, artinya Rahasia Pengembara. Kebaikan di jalanan lebih penting dari nasihat di mimbar. Pendirinya di awal tahun 2000-an adalah frater-frater (calon pastor) Projo dari rumah Seminari Tinggi Santo Petrus (STSP). Selain ordo Projo, di STFT ada ordo Kapusin, dan ordo Konventual.
Para frater itu berasal dari berbagai daerah, dan mereka saling berbagi pengalaman. Berakulturasi, sekaligus menjadi model untuk saling berbagi diantara beragam anak anak jalanan. Ini semacam rekoleksi berganda diantara pengasuh dan yang diasuh. Anak anak jalanan itu adalah ‘Siantarman’ penyemir sepatu, pedagang asongan, pengamen, petugas parkir di Pasar Horas.

Tugas pendampingan para frater adalah agar mereka saling memperhatikan, saling membantu, rekreasi bersama, dicarikan beasiswa sesuai kemampuan para frater, dibawa berobat bagi yang sakit, mendamaikan yang berkelahi, mendampingi yang ditangkap polisi, dan mengunjungi yang di penjara.
Ini semacam pendidikan dan pembinaan dengan pendekatan holistik secara personal dan komunal, ada correctio personalis (penilaian pribadi), correctio fraterna (penilaian persaudaraan).
Frater-frater tidak memberi uang karena memang tidak punya, tapi memberi perhatian, kasih, persahabatan. Tidak untuk mengkhotbahi supaya bertobat tapi menjadi sahabat. Menunjukkan pada anak anak jalanan yang kesepian itu bahwa mereka adalah manusia yang layak dicintai.
Gayung bersambut ketika Sandi Kelana bertemu dengan Elvina Simanjuntak, salah satu Staf Ahli Walikota yang membidangi pendidikan, perempuan dan anak. Saat itu ada beberapa yang diangkat khusus sebagai staf ahli antara lain bidang pendidikan Jef Rudianto Saragih (sekarang Prof, Guru Besar USI), Mansen Purba urusan organisasi dan hukum, Mahaitin Sinaga urusan manajemen keuangan.
Elvina saat itu sedang melacak stakeholder pemerhati anak di Siantar.
Perjumpaan dengan Sandi Kelana membuat mereka bersinergi dan membangun kolaborasi. Sandi Kelana menjadi sahabat Walikota, terlibat aktif dalam beberapa kegiatan menyangkut anak dan bahkan Natal Pemko. Beberapa even besar pernah ditangani. Hari Anak Nasional, Natal Ekumene, Jalan Salib Ekumene, Minggu Palma (sambal melambai-lambaikan daun palma), dan lainnya. Pokoknya Sandi Kelana menjadi penghubung Walikota untuk melayani kepentingan anak jalanan.
Saya kaget, karena untuk kegiatan yang besar anggaran mereka sangat kecil. “Ya beginilah Pak, anggaran rahib, apa adanya dan realistis,’ kata mereka melucu. Bukan anggarannya raib, tapi ‘rahib’ maksudnya adalah para biarawan. Para Frater itu memang suka melucu, dan perjumpaan dengan anak jalanan selalu dihujani dengan tawa terbahak bahak.
Permintaan mereka yang kemudian saya penuhi hanya sederhana saja, mengalokasikan salah satu kios di Pasar Horas menjadi ‘rumah singgah’ mereka. Saya sanggupi. Itu transit anak jalanan setelah kelelahan, atau untuk menikmati rejeki makanan seadanya, atau berganti baju setelah dari sekolah.
Anak jalanan di Siantar tak ikut dengan drama politik yang suka diperankan oleh para politisi lokal. Mereka cuek, karena toh DPRD juga asyik dengan diri sendiri, tak pernah alokasikan program untuk anak jalanan yang tersisihkan, terpinggirkan dan teralienasi. Itu mungkin persis dengan hingar bingar ‘kelimpahan’ anggota dewan di pusat dan melahirkan demo ketidakpuasan akhir akhir ini. Anak jalanan Siantar meresponnya justru dengan lucu-lucuan. Hidup itu indah!
Saat ini pengurus Sandi Kelana sebagian besar sudah menjadi pastor di berbagai keuskupan di Sumatera dan tempat lain: Hans Jeharut, Agustinus Pramodo, Poldo Situmorang, Justin Talaleng, Bernard Silaban, Stefan Kelen, Agustinus Giman, Vian Dharma, Eman Bahagia, Paschal Paskalis, Indro Pandego, Romanus, Ekoharmoko, Al Aditya Krisna, Condar Tarihoran, alm Kapi, alm Jones Tarigan dan seorang suster senior yang militan dan tetap bersemangat melayani orang kecil, Sr Raynilda Sinaga, KYM.
Beberapa sahabat Sandi Kelana ikut membantu antara lain David Simbolon yang sekarang aktif menjadi petani di Sidamanik, juga Herry Dharmawan pengusaha Apotik Merdeka. Putrinya Elvina, balita Donda Sihite menjadi saksi pergulatan Sandi Kelana menembus tantangan hidup anak jalanan. Donda sekarang sudah selesaikan studi di Universitas Negeri Yogyakarta.
Hubungan kami dengan para frater terdahulu tetap berlanjut sampai sekarang, lewat media sosial yang lebih ‘sophisticated.’ Ada bahaya post truth dalam komunikasi ditengah kemajuan teknologi informasi. Tapi joke dan canda kami tetap menjadi bumbu utama hidup. Kelucuan menemani perjalan dan penugasan para Romo ke berbagai daerah. Setiap orang yang ditemui adalah guru lucu, dan tiap tempat yang dilayani adalah sekolah ketawa. Hidup itu indah!
Seorang diantaranya, Romo Hans Jeharut, menuangkannya dalam buku “Hidup Itu Indah, Tertawalah,” diterbitkan oleh Gramedia. Bukunya saya beli. Dikirim dengan cepat, dibubuhi tandatangan dengan catatan ‘tetaplah berbagi tawa.’ Kami akan reuni Minggu 7 September 2025 di Gramedia Matraman Jakarta. Saya mengenang masa di Siantar 20-an tahun lalu, dan terobsesi, kiranya anak jalanan di Siantar tetap diperhatikan Walikota Wesly Silalahi.
Anak anak jalanan ‘siantarman’ adalah pewaris masa depan kita.. (#)





