SAMOSIR – Konferensi Cabang (Konfercab) serentak PDI Perjuangan Wilayah II Sumatera Utara resmi menetapkan delapan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari delapan kabupaten/kota.
Penetapan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi, melainkan momentum konsolidasi ideologis partai untuk menegaskan keberpihakan kepada rakyat kecil, melawan praktik politik warisan Orde Baru, sekaligus menguatkan semangat gotong royong di tengah bencana yang melanda Sumatera Utara.
Konfercab digelar di Hall Hotel Marianna, Tuktuk, Kabupaten Samosir, Jumat (12/11/2025), dan diikuti DPC PDI Perjuangan dari Kota Medan, Kabupaten Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Toba, Pakpak Bharat, Karo, dan Kota Pematangsiantar.
Kegiatan ini dibuka dengan pemukulan gong oleh Ketua DPP PDI Perjuangan, Dedy Sitorus, sebagai penanda dimulainya agenda organisasi tertinggi di tingkat cabang.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Drs Rapidin Simbolon MM, menegaskan Konfercab bukan forum seremonial, melainkan ruang memperkuat garis perjuangan partai. Ia menekankan bahwa seluruh keputusan Konfercab bersifat final dan wajib dijalankan seluruh kader tanpa pengecualian.
“Siapa pun yang terpilih, tugasnya menjaga soliditas partai dan melayani wong cilik. PDI Perjuangan lahir dari perlawanan terhadap ketidakadilan dan praktik Orde Baru. Nilai itu tidak boleh pudar,” ujar Rapidin.
Rapidin juga meminta para Ketua DPC terpilih segera melakukan konsolidasi hingga ke tingkat akar rumput, menjaga disiplin partai, dan menempatkan kepentingan rakyat kecil sebagai orientasi utama perjuangan politik.
Dalam konteks situasi kebencanaan, Rapidin menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban banjir bandang, longsor, dan gempa di Tapanuli Tengah, Sibolga, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, serta wilayah Aceh dan Sumatera Barat.
Ia menyebut, sejak awal bencana PDI Perjuangan Sumut telah menyalurkan puluhan ton bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya ke daerah terdampak.
Namun, ia menegaskan bahwa gotong royong tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni.
“Kalau ada kader kita yang terdampak, mohon didata. PDI Perjuangan akan memberi bantuan khusus, termasuk beasiswa bagi anak-anak korban,” kata Rapidin.
Di hadapan kader, Ketua DPP PDI Perjuangan Dedy Sitorus kembali mengingatkan agar partai tidak bergeser dari jati diri historisnya sebagai partai perlawanan.
Menurutnya, semangat melawan Orde Baru bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sikap kritis terhadap setiap praktik kekuasaan yang elitis, anti-kritik, dan menjauh dari demokrasi serta keadilan sosial.
“PDI Perjuangan lahir dari perlawanan terhadap Orde Baru. Karena itu, kader tidak boleh melanggengkan cara-cara lama kekuasaan yang menindas rakyat kecil,” tegas Dedy.
Ia juga mengingatkan agar para Ketua DPC terpilih tidak terjebak politik transaksional dan pragmatisme kekuasaan.
“Kalau partai menjauh dari wong cilik, saat itu pula kita mengkhianati sejarah dan ideologi sendiri,” ujarnya.
Dalam penanganan bencana, Dedy mengapresiasi gerak cepat DPD PDI Perjuangan Sumut dan menambahkan bahwa DPP PDI Perjuangan turut mengerahkan Kapal Rumah Sakit Laksamana Malahayati untuk membantu korban bencana di Aceh dan Sibolga.
Menurutnya, di tengah kritik dan cibiran, yang terpenting adalah dampak nyata bagi rakyat.
“Terlepas dari apa pun penilaian orang, yang utama adalah bagaimana rakyat terbantu,” kata Dedy.
Setelah melalui mekanisme partai, Konfercab menetapkan delapan Ketua DPC PDI Perjuangan Wilayah II Sumatera Utara, yakni Ketua DPC Kota Medan Hasyim SE, Kabupaten Samosir Osvaldo Ardiles Simbolon, Kabupaten Humbang Hasundutan DR Oloan Paniaran Nababan, Kabupaten Toba Franshendrik Tambunan, Kabupaten Dairi Resoalon Lumban Gaol, Kabupaten Pakpak Bharat Sonny Berutu S.Th, Kota Pematangsiantar Timbul Marganda Lingga, dan Kabupaten Karo Peri Edisonta Sembiring.
Para Ketua DPC terpilih langsung menyusun struktur kepengurusan masing-masing dan dilantik secara serentak melalui pengucapan sumpah dan janji jabatan partai.
Konfercab yang berlangsung sejak siang hingga sore hari itu berjalan tertib, aman, dan kondusif.
Rapidin berharap, berharap kepengurusan baru mampu memperkuat kerja-kerja kerakyatan di daerah, menjaga soliditas organisasi, serta memastikan partai tetap tegak lurus pada garis ideologis berdiri di barisan rakyat, melawan ketidakadilan, dan tidak kembali terjebak pada praktik politik gaya Orde Baru.(*/AN)





