PARAPAT, ArmadaNews id – Diguyur hujan deras sekitar lima jam, puluhan rumah di Jalan Angarajim , Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon (Girsip), Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara, terendam banjir setinggi setengah meter dan satu gereja tertimbun material batu.
Banjir disebabkan meluapnya air Sungai Batu Gaga Bagun Dolok dan Umbul mata air perbukitan Sitorutoru di Huta Swalan, Nagori Sibaganding. Dan Uspika setempat langsung cek lokasi longsor dan banjir.
“Akibat curah hujan cukup deras Sabtu (11/07/2020), malam, puluhan rumah warga terendam air, juga menimbulkan tebing longsor, di Nagori Sibaganding enam lokasi longsor hinga menutup jalan Nasional, begitu juga di Huta Bagun Dolok, Kelurahan Parapat sebanyak tujuh titik tebing longsor, bahkan satu tempat ibadah (gereja) tertimbun batu cadas, ” terang Camat Girsip,

Eva Suryati Uliyarta Tambunan di lokasi didampingi anggota Bahbinsa Koramil II Parapat, Serda Asry, Minggu (12/07/2020), menjelaskan, lokasi bencana alam telah di cek dan selanjutnya berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penaganan serta antisipasi pencegahan.
“Kami telah cek lokasi, kemudian menyurati dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan dan antisipasi pencegahan, juga kita harap warga tetap waspada ada banjir susulan,” ujar Eva,

Terpisah, Lurah Parapat, Rohana Sinaga menyampaikan, akibat curah hujan deras Sabtu malam, banjir datang tiba-tiba dan merendam rumah warga dengan ketinggian air sekitar setengah meter. Asal air meluap sungai Batu Gaga Bangun Dolok.
“Rumah warga yang paling urgen nyaris longsor ada tiga, selebihnya banjir di Jalan Angarajim, sedangkan perbukitan longsor ada tujuh titik di Huta Bangun Dolok. Syukur pada Tuhan, dalam bencana alam ini tak ada korban jiwa, melaikan hanya kerugian material atau barang rumah tangga,” jelas Rohana.
Di lokasi berbeda, Pangulu Sibaganding, Martno Bakkara menyampaikan, saat hujan turun, umbul mata air perbukitan Sitorutoru Huta Swalan meluap. Akhirnya membawa material batu cadas dan bekas olahan kayu dari hutan. kemudian menerjang rumah warga dan gereja HKBP Swalan.
“Kerusakan rumah warga ada empat, satu tempat ibadah tertimbun batu, sedangkan tebing yang longsor ditepi jalan Nasional lima titik,” papar Martno,
Kepling 1 Pak Bukit Silalahi, mengatakan luapan air Sungai Batu Gaga Bangun Dolok juga telah terjadi pada 2018 lalu. Puluhan rumah warga banjir dan rusak di terjang air sungai.
“Banjir ini merupakan kejadian kedua kali dalam waktu dua tahun ini, akibat curah hujan semalam, satu rumah warga nyaris roboh di bawa arus sungai, yaitu rumah marga Sitio, puluhan rumah lainya alami banjir dan masuk lumpur, ” papar pak Bukit,
Timpal Kepling3 Bangun Dolok, Ramces Sidabutar mengatakan, longsoran material batu dari tebing (gunung ) yang menutup jalan umum ke Huta Bagun Dolok, telah di bersikan warga secara bergotong royong. “Tebing yang longsor di daerah ini ada
tujuh titik, kemudian menutup badan jalan ke perkampungan Bangun Dolok, dan sudah dilakukan pembersihan timbunan material batu dan tanah oleh masyarakat, hanya sebatas kendaraan roda dua bisa lewat, kalau roda empat belum bisa lewat, mudah -mudahan ibu camat bisa cepat menurunkan bantuan alat berat,” harap Ramces.

Pantauan di lapangan, Unit Sat Lantas Polsek Parapat dibantu petugas lantas Polres Simalungun masih tetap melakukan aktifitas pengaturan lalin di Jalinsum Huta Swalan. Buka tutup terpaksa dilakukan untuk mengantisipasi antrian panjang kendaraan.
Sedangkan bekas material batu cadas akibat longsor masih terlihat menumpuk dibahu jalan dan masih tahab pembersihan alat berat milik PT Toba Pulp Lestari (TPL tbk). (Hery)





