ADVERTORIAL – Ketahanan pangan nasional tidak hanya ditentukan oleh luas lahan pertanian dan kualitas benih, tetapi juga oleh keberlangsungan pasokan air. Menyadari pentingnya peran tersebut, Pemerintah Kabupaten Simalungun terus memperkuat infrastruktur sumber daya air sebagai langkah strategis menghadapi prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kekeringan ekstrem pada tahun 2026, sekaligus mendukung percepatan program swasembada pangan nasional.
Sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Sumatera Utara, Kabupaten Simalungun memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas produksi pertanian. Karena itu, keberadaan jaringan irigasi menjadi denyut nadi yang menghidupi ribuan hektare sawah dan menjadi penopang utama kesejahteraan petani.
Komitmen tersebut diwujudkan Bupati Simalungun DR H Achmad Anton Saragih melalui berbagai program rehabilitasi, pemeliharaan, normalisasi saluran irigasi, hingga gotong royong bersama masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Simalungun melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA).
<< Mengamankan Lumbung Pangan Sumatera Utara
Salah satu sistem irigasi terbesar yang menjadi tulang punggung pertanian Simalungun adalah Daerah Irigasi (DI) Kerasaan yang mengairi sekitar 5.000 hektare lahan pertanian melalui jaringan saluran sekunder sepanjang kurang lebih 39,10 kilometer.
Namun tantangan tidak sedikit. Beberapa titik mengalami kerusakan akibat bencana alam maupun sedimentasi, seperti longsor pada saluran irigasi Huta Bayuraja yang berdampak terhadap sekitar 750 hektare lahan pertanian, serta kerusakan saluran irigasi Batu III Batu Tomok di Kecamatan Gunung Malela.

Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Simalungun terus mengalokasikan anggaran melalui APBD untuk rehabilitasi berbagai jaringan irigasi, di antaranya perbaikan Daerah Irigasi Gajing senilai hampir Rp1 miliar, rehabilitasi jaringan di Desa Lokkung Raya, serta berbagai program normalisasi saluran di sejumlah kecamatan.
Selain pembangunan fisik, berbagai aduan masyarakat mengenai sedimentasi, sampah, maupun penyumbatan saluran juga ditindaklanjuti secara cepat melalui koordinasi antara Dinas PUTR dan pemerintah nagori.
Bergerak Cepat Menghadapi Ancaman Kekeringan
Prediksi BMKG mengenai potensi kekeringan ekstrem tahun 2026 menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Simalungun. Kesiapan infrastruktur irigasi menjadi salah satu strategi utama agar produktivitas pertanian tetap terjaga ketika musim kemarau berkepanjangan terjadi.
Berbagai kegiatan pemeliharaan rutin terus dilaksanakan di seluruh wilayah irigasi, antara lain di:
• Daerah Irigasi Dolok Malela/Bandan, Kecamatan Gunung Malela;
• Daerah Irigasi Negeri Asih, Kecamatan Dolok Panribuan;
• Daerah Irigasi Sitampulak, Kecamatan Tanah Jawa;
• Daerah Irigasi Siboulangit dan Pulo Siborna, Kecamatan Panei;
• Daerah Irigasi Silenduk, Kecamatan Dolok Batu Nanggar;
• Daerah Irigasi Balata Ujung Raja di Lumban Sihobuk, Kecamatan Jorlang Hataran;
• Daerah Irigasi Sibunga-bunga, Kecamatan Jorlang Hataran;
• Daerah Irigasi Pangkalan Buntu Atas, Kecamatan Panei.
Kegiatan tersebut meliputi pembersihan sedimentasi, pengangkatan sampah dan plastik, pemotongan pohon tumbang, penanganan kebocoran tanggul, penguatan saluran, hingga normalisasi pintu pembuang pasir agar distribusi air menuju lahan pertanian tetap berjalan optimal.
<< Semangat Gotong Royong Menjadi Kekuatan
Yang menarik, keberhasilan pemeliharaan jaringan irigasi di Simalungun tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga tumbuh dari semangat gotong royong masyarakat.
Di berbagai daerah irigasi, warga bersama petugas Bidang SDA turun langsung membersihkan saluran, mengangkat material longsor, memotong kayu yang menghambat aliran, hingga memperbaiki tanggul yang mengalami kerusakan.


Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa menjaga irigasi bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan gerakan bersama untuk menjaga sumber kehidupan masyarakat.
Selain memperlancar distribusi air, kegiatan gotong royong juga meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran irigasi, sehingga kerusakan infrastruktur dapat diminimalkan.
Respons Cepat Hadapi Bencana
Komitmen Pemerintah Kabupaten Simalungun juga terlihat dari kecepatan penanganan kerusakan akibat bencana.
Saat terjadi longsor yang menyebabkan saluran Daerah Irigasi Batu III Batu Tomok di Kecamatan Gunung Malela jebol sepanjang sekitar 10 meter ke arah sungai, Dinas PUTR melalui Bidang SDA segera menurunkan alat berat untuk melakukan penanganan darurat.
Berkat respons cepat tersebut, jaringan irigasi berhasil dipulihkan sehingga pasokan air menuju lahan pertanian kembali normal dan aktivitas pertanian masyarakat tidak terganggu.
Selaras dengan Program Nasional
Langkah Pemerintah Kabupaten Simalungun juga sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sebelumnya, Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Mitigasi Kekeringan Lahan Pertanian di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, pada 20 April 2026.
Dalam forum nasional tersebut, Bupati mengusulkan penguatan infrastruktur pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi, serta program cetak sawah baru sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman kekeringan sekaligus memperkuat swasembada pangan nasional.
Usulan tersebut menunjukkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Simalungun dalam memastikan sektor pertanian tetap menjadi motor penggerak perekonomian daerah di tengah tantangan perubahan iklim.
Irigasi Terawat, Petani Sejahtera
Bagi Kabupaten Simalungun, irigasi bukan sekadar saluran air. Irigasi merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan pembangunan daerah.
Melalui rehabilitasi infrastruktur, respons cepat terhadap kerusakan, serta budaya gotong royong yang terus dipelihara, Pemerintah Kabupaten Simalungun membuktikan komitmennya menjaga setiap tetes air tetap mengalir hingga ke sawah-sawah masyarakat.
Dengan jaringan irigasi yang semakin andal, Simalungun optimistis mampu menghadapi ancaman kekeringan ekstrem tahun 2026 sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama Sumatera Utara dan kontributor penting dalam mewujudkan swasembada pangan Indonesia. (ADV)





