WAY KANAN – Pemerintah Kabupaten Way Kanan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau 2026. Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman Kekeringan dan Karhutla di Kabupaten Way Kanan, di Ruang Buway Pemuka Pengiran Tuha, Rabu (22/7/2026).
Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah, S.Ked., melalui Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ixuan Akhmadi, S.Sos., M.M., memimpin rapat yang dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah terkait serta para pimpinan kecamatan se-Kabupaten Way Kanan.
Membacakan sambutan Bupati, Ixuan mengatakan Pemerintah Kabupaten Way Kanan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan Karhutla yang dapat meningkat selama musim kemarau.
Menurutnya, Kabupaten Way Kanan berada dalam kategori risiko bencana sedang. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tercatat 182 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut menjadi peringatan agar seluruh unsur pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat langkah pencegahan.
Berdasarkan prakiraan kondisi iklim yang disampaikan dalam rapat, dampak fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung pada periode Juli hingga Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran apabila tidak diantisipasi secara serius.
“Kita tidak boleh lengah. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, seluruh perangkat daerah, aparat keamanan, pemerintah kecamatan, pemerintah kampung, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat harus memperkuat koordinasi dan bekerja secara terpadu dalam menghadapi musim kemarau tahun ini,” ujar Ixuan.
Ia menegaskan, penanganan Karhutla membutuhkan respons cepat dan tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Karena itu, koordinasi lintas sektor harus diperkuat agar setiap unsur dapat bergerak cepat ketika terjadi kondisi darurat.
Sinergi tersebut melibatkan BPBD, TNI, Polri, Satpol PP dan Damkar, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perkebunan, perusahaan, Pramuka, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), pemerintah kecamatan hingga pemerintah kampung.
Selain memperkuat penanganan, Pemkab Way Kanan juga menekankan pentingnya langkah pencegahan. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan karena kondisi musim kemarau dapat menyebabkan api dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan.
Kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan bencana juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah meminta seluruh unsur terkait memastikan ketersediaan dan kesiapan mobil tangki air, armada pemadam kebakaran, personel siaga, sumur bor serta posko siaga agar dapat digunakan sewaktu-waktu.
Sistem deteksi dini juga diperkuat, terutama dalam pemantauan dan pelaporan titik api. Setiap indikasi kebakaran diharapkan segera dilaporkan sehingga dapat dilakukan penanganan sejak dini sebelum api meluas dan menimbulkan dampak lebih besar.
Para camat juga diminta segera menggelar rapat kesiapsiagaan di wilayah masing-masing bersama unsur Forkopimcam, kepala kampung, perusahaan, Pramuka, RAPI dan elemen masyarakat lainnya.
Langkah tersebut diikuti dengan pemetaan wilayah rawan Karhutla, pengecekan jalur evakuasi serta identifikasi sumber air yang dapat dimanfaatkan apabila terjadi kondisi darurat.
Pemerintah Kabupaten Way Kanan berharap koordinasi tersebut mampu membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih kuat hingga tingkat kampung. Dengan keterlibatan seluruh unsur, ancaman kekeringan dan Karhutla diharapkan dapat dicegah dan ditangani secara cepat serta terpadu.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemkab Way Kanan dalam melindungi keselamatan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan serta memastikan aktivitas sosial dan ekonomi tetap berjalan selama musim kemarau 2026 menuju Way Kanan Mandiri dan Sejahtera. (Bahtiar/uin)











